Siraman Rohani dalam korelasinya dengan Pendidikan Sepanjang Hayat

Pencerahan tentang pemimpin agama dalam majelis Taklim di Taman Indraloka.
Share to social media

Sholat Jumat berjamaah di Taman Indraloka
Sholat Jumat berjamaah di Taman Indraloka

Indonesiannews.co/Taman Indraloka, 16 Desember 2016. Majelis Taklim pada pertemuan kali ini membahas tentang Pendidikan dan soft skill. Pada abad 14 yang lampau, tepatnya pada zaman Nabi Muhammad SAW ide dan konsep itu telah disiarkannya dalam bentuk suatu imbauan, dalam haditsnya:
اُطْلُبُوُا العِلْمَ مِنَ المَهْدِ اِلىَ اللََّحْدِ
artinya :”Tuntutlah ilmu oleh kalian mulai sejak di buaian hingga liang lahat”.

Manusia adalah makhluk yang akan selalu tumbuh dan berkembang. Manusia selalu ingin mencapai suatu kehidupan yang optimal. Oleh sebab itu selama manusia selalu berusaha untuk meningkatkan kehidupannya, baik dalam meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan, kepribadian, maupun meningkatkan keterampilannya, secara sadar atau tidak sadar, maka selama itulah pendidikan akan tetap berjalan.

Pendidikan sepanjang hayat merupakan asas pendidikan yang cocok bagi orang-orang yang hidup dalam dunia transformasi, dan di dalam masyarakat yang saling berinteraksi dan saling mempengaruhi, sebagaimana yang banyak ditemui pada zaman globalisasi sekarang ini. Setiap manusia dituntut untuk mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan dirinya secara terus menerus dengan berbagai situasi baru yang tidak pernah terjadi sebelumnya .

Pendidikan sepanjang hayat merupakan jawaban terhadap berbagai kritik, saran, usulan yang dilontarkan pada sekolah. Sistem sekolah secara tradisional pada saat ini ternyata mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan perubahan yang sangat cepat dan unpredictable, sistem yang sekarang digunakan ternyata tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan atau tutuntutan manusia yang semakin meningkat. Pendidikan di sekolah hanya terbatas pada tingkat pendidikan dari sejak kanak-kanak sampai dewasa, tidak akan memenuhi persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan dunia, yang pada kenyataannya telah berkembang dengan sangat pesat. Dunia yang selalu berubah ini membutuhkan suatu sistem yang fleksibel. Pendidikan harus tetap memiliki kemampuan untuk bergerak menyesuaikan diri dan selalu melakukan continuous improvement.

Menurut konsep pendidikan sepanjang hayat, kegiatan-kegiatan pendidikan dipandang sebagai suatu keseluruhan. Seluruh sektor pendidikan merupakan suatu sistem yang terpadu. Konsep ini harus disesuaikan dengan kenyataan serta kebutuhan masyarakat yang bersangkutan. Suatu masyarakat yang telah maju akan memiliki kebutuhan yang berbeda dengan masyarakat yang belum maju. Pendidikan bukan hanya berlangsung di sekolah. Pendidikan akan dimulai segera setelah anak dilahirkan dan akan berlangsung sampai manusia meninggal dunia kembali kepada Sang Pencipta. Oleh karena itu, proses pendidikan akan dimulai dan berlangsung dalam keluarga, kemudian sekolah dan di kalangan masyarakat .

Yang sangat berpengaruh terhadap pembangunan soft skill manusia adalah keluarga, karena keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi proses perkembangan seorang individu sekaligus merupakan peletak dasar kepribadian anak, atau yang dikenal dengan pembentukan soft skill. Pendidikan soft skill sejak masa anak-anak sifatnya akan blended di otak si anak, mempengaruhi perilaku dan cara berpiikir seumur hidup. Pendidikan anak di lingkungan keluarga diperoleh terutama melalui interaksi antara orang tua dengan anak. Dalam berinteraksi dengan anaknya, orang tua secara sadar atau tidak sadar akan membangun “the limbic system” pada otak sang anak, Berbagai sikap dan perlakuan tertentu dari orang tua, akan merupakan perwujudan pendidikan terhadap anaknya. Hal inilah yang harus mendapatkan perhatian secara serius oleh Pemerintah, karena tentunya kita menyadari berapa banyak orang tua memahami cara mendidik anak sejak usia dini secara benar

Pendidikan di sekolah merupakan kelanjutan dalam keluarga.Sekolah merupakan lembaga tempat dimana terjadi proses sosialisasi yang kedua setelah keluarga, sehingga mempengaruhi pribadi anak dan perkembangan sosialnya. Sekolah diselenggarakan secara formal. Di sekolah anak akan belajar apa yang ada di dalam kehidupan, dengan kata lain sekolah harus mencerminkan kehidupan sekelilingnya. Oleh karena itu, sekolah tidak boleh dipisahkan dari kehidupan dan kebutuhan masyarakat sesuai dengan perkembangan budayanya. Dalam kehidupan modern seperti saat ini, sekolah merupakan suatu keharusan, karena tuntutan-tuntutan yang diperlukan bagi perkembangan anak sudah tidak memungkinkan akan dapat dilayani oleh keluarga. Materi yang diberikan di sekolah berhubungan langsung dengan pengembangan pribadi anak, berisikan nilai moral dan agama, berhubungan langsung dengan pengembangan sains dan teknologi, serta pengembangan kecakapan-kecakapan tertentuyang langsung dapat dirasakan dalam pengisian tenaga kerja.

Pendidikan di masyarakat merupakan bentuk pendidikan yang diselenggarakan di luar keluarga dan sekolah. Bentuk pendidikan ini menekankan pada perolehan pengetahuan dan keterampilan khusus serta praktis yang secara langsung bermanfaat dalam kehidupan di masyarakat.

Pendidikan sepanjang hayat (PSH) atau pendidikan seumur hidup yang secara operasional sering pula disebut pendidikan sepanjang raga (long life education) bukanlah sesuatu yang baru.

Belajar sepanjang hayat itu terjadi karena satu sebab saja yaitu kesuksesan proses pendidikan di dalam keluarga yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya. Sehingga dengan suksesnya orang tua mendidk anaknya sejak dini maka sang anak telah merasa butuh untuk mempertahankan hidup dan kehidupannya dalam menghadapi dorongan-dorongan dari dalam dan tantangan alam sekitar, yang selalu berubah. Anak akan mampu menyesuaikan diri secara aktif, dinamis, kreatif, dan inovatif terhadap diri dan kemajuan zaman.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa , pendidikan itu merupakan bagian integral dari hidup itu sendiri. Prinsip pendidikan seperti itu mengandung makna bahwa pendidikan itu lekat dengan diri manusia, karena dengan itu manusia dapat terus menerus meningkatkan kemandiriannya sebagai pribadi dan sebagai anggota masyarakat, selalu berupaya untuk meningkatkan rasa pemenuhmaknaan (self fulfillment) dan terarah kepada aktualisasi diri. Namun secara keseluruhan harus dipahami dan dijadikan dasar pemikiran, adalah kemauan dan semangat untuk melakukan itu semua hanya dapat diwujudkan apabila pendidikan tahap pertama yaitu pendidikan dalam keluarga berlangsung secara tepat dan benar.

Marsekal Pertama (Purn) TNI Juwono Kolbioen,SE

Komentar

Berkomentar


Share to social media

Be the first to comment

Leave a Reply