Catatan Kecil Mantan Komisaris PT Dirgantara Indonesia

0
132

Saran untuk PT Dirgantara Indonesia

Produksi N219 dan N245 dikaitkan dengan pengembangan kemampuan untuk :

  1. Produksi berbagai komponen pesawat terbang
  2. Penyediaan jasa pemeliharaan pesawat terbang beserta seluruh peralatannya.

 

Pendahuluan

Pada saat ini, PT Dirgantara Indonesia yang kita banggakan,  sebagaimana yang telah diketahui oleh masyarakat Indonesia; sedang mengembangkan pesawat N219 dengan jumlah penumpang sebanyak 19 orang dan diharapkan mampu mendukung kebutuhan angkutan udara antar kawasan di Indonesia yang sebagian besar hanya memiliki limited Runway dan untuk mencapainya melewati terrain yang cukup spesifik. Dengan demikian Pesawat N219 merupakan pesawat perintis yang didesain sesuai dengan karakteristik wilayah di Indonesia, antara lain mampu beroperasi di remote area dengan landasan pacu dan fasilitas yang serba terbatas, sebagaimana yang banyak ditemukan di wilayah Papua.

Selanjutnya mengingat perkembangan kebutuhan wahana udara di Indonesia yang cukup besar dimasa mendatang, seyogyanya Pemerintah melanjutkan proyek N219 dengan program pesawat N245 sebagaimana yang pernah dirintis sebelumnya. Pesawat N245 adalah pesawat propeller dengan jumlah penumpang sekitar 50 orang yang sangat cocok sebagai bagian dari pola jaringan hub and spoke” untuk wilayah Indonesia yang memiliki ribuan pulau. Hub and spoke adalah suatu pola jaringan penerbangan dengan menetapkan suatu bandara untuk berperan sebagai hub dengan pertimbangan aerodrome atau airport capacity yang meliputi land side dan air side capatiy, dari sinilah N245 direncanakan beroperasi untuk penerbangan ke kota-kota besar yang memiliki airport capacity yang lebih besar. Selanjutnya hub berperan menampung penerbangan banyak rute (spoke) yang menggunakan N219 dari berbagai remote area.

Hal ini sejalan dengan kebijaksanaan pengembangan industri hingga tahun 2035, yang menetapkan bahwa; untuk sektor industri kedirgantaraan, harus ada upaya untuk mengembangkan kebijakan penggunaan produk dalam negeri dan kebijakan pengembangan kawasan industri serta pebentukan SDM penerbangan yang berkualitas. Dengan demikian kebijaksanaan pengembangan industri kedirgantaraan ditetapkan untuk focus terhadap :

  1. Pengembangan pesawat terbang,
  2. Pembuatan komponen pesawat terbang,
  3. Pemeliharaan pesawat terbang.

 

Perlunya pemahaman dampak persaingan Aircraft Manucature dalam merebut pangsa pasar

Penetapan bahwa untuk sektor industri kedirgantaraan yang harus dilakukan adalah focus terhadap pengembangan pesawat terbang, produksi komponen pesawat terbang dan pemeliharaan pesawat terbang,  adalah sudah sangat tepat.  Namun perlu pertimbangan yang tepat dalam pelaksanaannya,  yang utama adalah pertimbangan laju perkembangan teknologi  pesawat terbang di berbagai Aircraft Manufactures di negara-negara besar yang akhir-akhir cukup significant perkembangannya dalam persaingan dalam memperebutkan pasar.

Sudah sangat sering kita mendapatkan berita yang berkaitan dengan persaingan antara Boeing dengan Airbus (dan untuk itu kita semua juga sudah sangat paham apa yang terjadi dengan persaingan “hidup dan mati” antara Boeing dan Airbus). Namun yang perlu mendapatkan perhatian adalah dampak sehubungan dengan menculnya perkembangan produksi pesawat terbang berteknologi super tinggi yang dilakukan oleh China dan Rusia. Sebagai gambaran China  memproduksi C929 yang dikembangkan bersama United Aircraft Corp dan Commercial Aircraft Corporation of China Ltd (COMAC), tujuannya tidak lain adalah untuk menantang dominasi Boeing dan Airbus di segmen pesawat berbadan lebar seperti Boeing 777. Disamping itu COMAC juga meluncurkan pesawat dengan ukuran lebih sempit yang berkapasitas 158-174 tempat duduk yang dikenal dengan C919, ditujukan sebagai pesaing Boeing 737 dan Airbus A320. Di lain sisi Rusia juga turut menantang Airbus dan Boeing dengan mengeluarkan Irkut MC-21. Pesawat jet dengan mesin kembar itu dilengkapi dengan teknologi super yang mengakibatkan pesawat terbang ini lebih murah, lebih efisien, dan lebih cepat, serta ramah lingkungan.  Memang dari segi emisi, seluruh tipe MC-21 diyakini 20% akan lebih ramah lingkungan dibanding pesaingnya, Boeing dan Airbus.

Upaya China dan Rusia tentunya tidak akan berhenti sampai disini saja. Dua negara berkembang yang memiliki dana berlimpah ini pasti akan berusaha keras untuk memajukan industri  pembuatan pesawat terbang dengan lebih peningkatan kemampuan tehnologi pesawat terbang. Dan di lain sisi dengan munculnya China dan Rusia sebagai pesaing baru, maka Boeing dan Airbus tentunya juga tidak menutup mata untuk ini. Kesimpulan; para aircraft manucatures untuk memenangkan persaingan terutama dalam marketing, upaya yang dilakukan dititikberatkan pada  kemampuan penguasaan teknologi yang bertujuan agar produk menjadi lebih murah, lebih efisien, lebih cepat, serta ramah lingkungan. Untuk itu dapat dibayangkan betapa majunya teknologi dalam produksi pesawat terbang pada saat ini.

Apa yang seyogyanya dilakukan di Indonesia

Sehubungan dengan fakta tersebut diatas, maka kebijaksanaan Pemerintah untuk fokus dalam Pengembangan pesawat terbang haruslah mempertimbangkan fakta tersebut. Jangan sampai kebijaksanaan ditetapkan secara lineair sehingga mengakibatkan Aircraft Manufacture di Indonesia terjebak dalam persaingan tersebut. Untuk itu upaya untuk memacu pengembangan kemampuan industri aircraft component dan kemampuan Aircraft Maintenance, adalah merupakan  keputusan yang sangat tepat dan benar. Apalagi hal tersebut juga telah didukung oleh Peraturan Pemerintah Nomor 14 tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) yang menetapkan industri alat peralatan transportasi merupakan salah satu industri andalan.  Kebijakan pengembangan SDM penerbangan terutama dalam penguasaan kemampuan desain dan aircraft engineering serta aircraft maintenace, dengan tidak melupakan kemampuan dalam penyusunan regulasi  yang diperlukan untuk mendukung program tersebut dapat meraih pasar intetnasional.

Dengan demikian kiranya sudah cukup bijaksana apabila PT.Dirgantara Indonesia mengembangkan produksi pesawat terbang  terbatas sampai dengan  N245 saja yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan apabila memungkinkan juga untuk memenuhi kebutuhan global, karena untuk mengembangkan pesawat terbang yang lebih besar akan menghadapi persaingan dengan Aircraft Manufacture di negara-negara raksasa, yang sarat dengan kandungan teknologi tinggi dan  diwarnai juga dengan Cut Troath Competition, kiranya dalam hal ini cukup sulit bagi Indonesia untuk dapat ikut berkompetisi. Dalam kondisi seperti sekarang ini kiranya upaya untuk meningkatkan kemampuan produksi komponen pesawat terbang dan pemeliharaan pesawat terbang harus dijadikan primadona dalam pembangunan kemampuan PT.Dirgantara Indonesia, karena hal itu merupakan pilihan yang tepat dan benar.

Sebagai tambahan perlu kiranya diingat bahwa Kemenperin beberapa waktu yang lalu telah mengukuhkan Asosiasi Industri Komponen pesawat Udara, Indonesia Aircraft and Component Manufacture Association (INACOM) yang anggotanya terdiri dari berbagai industri di bidang metal, karet, plastik, Polyurethane, serta lembaga riset, dan konsultan.  INACOM diharapkan mampu mendukung penyediaan komponen untuk pesawat produksi dalam negeri. Selain itu, INACOM juga diharapkan mampu menjadi bagian penting dalam rantai pasok global dalam industri pesawat di dunia.
Selama beberapa waktu belakangan ini tentunya INACOM telah turut serta dalam pengembangan beberapa komponen terutama pada program pesawat N219.  Diharapkan, pesawat N219 memiliki TKDN sebesar 40 persen dan untuk selanjutnya dapat ditingkatkan dan dengan adanya INACOM dapat bertambah menjadi 60 persen pada tahun 2019.   Di sektor jasa pemeliharaan pesawat terbang  telah ada Indonesia Aircraft Maintenance Services Association (IAMSA) yang saat ini beranggotakan lebih dari 35 MRO.

Untuk mendukung peningkatan kapasitas MRO sebagai usaha dalam penyerapan pasar dalam negeri, kiranya gagasan untuk mengembangkan Aerospace Park (an integrated and efficient industrial space for aerospace activities) perlu digarap kembali. Dan perlu juga diingat bahwa telah ada Pusat Desain dan Engineering Pesawat Udara atau Indonesia Aircraft Engineering Center (IAEC) di Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN.  IAEC diharapkan mampu mengisi sektor desain dan engineering dalam pengembangan pesawat maupun komponen sehingga dapat memperbaiki kualitas produk pesawat dan komponen di masa depan.

 

Kesimpulan dan penutup

Kita semua harus optimis terhadap masa depan PT.Dirgantara Indonesia dengan berbagai inovasi dan improvement yang selama ini telah dilakukan. Perlu lebih ditekankan bahwa kegiatan R & D harus tetap dilakukan secara continue dengan tujuan untuk menyesuaikan produk dengan  kebutuhan pelanggan terutama pelanggan dalam negeri termasuk juga untuk  kebutuhan TNI/Polri. Dengan demikian pola customized tetap harus dilanjutkan secara konsisten, disinilah PT.Dirgantara Indonesia akan dapat mengoptimalkan jenis produk yang sudah ada dan kemudian melakukan kustomisasi sesuai dengan pesanan pelanggan. Tujuannya tidak lain agar domain design,  product dan market akan saling interfacing.

Diakui bahwa upaya membangun kembali industri strategis khusus dibidang Aircraft Manufacture diperlukan dukungan yang bersifat multidimensional.  Kemampuan, innovasi dan konsistensi para karyawan beserta seluruh jajaran direksi saja tentunya tidak mencukupi.   Dukungan dan political will dari pemerintah secara tepat dan benar dalam upaya membantu dalam berbagai aspek mutlak diperlukan. Apabila itu dapat dilaksanakan seara terpadu maka PT.Dirgantara Indonesia sebagai industri kebanggaan nasional akan dapat benar-benar diwujudkan.

 

Marsekal  Pertama TNI (Purn) Juwono Kolbioen mantan Komisaris PT DI periode tahun 2002-2006.

Komentar

Berkomentar

TIDAK ADA KOMENTAR