Kajian Teroris = “Ghost War” >< “War on Terror”

Vice President Indonesia Aviation and Aerospace Watch, Masrma TNI (Purn) Juwono Kolbioen.
Share to social media

Kajian Teroris = “Ghost War” >< “War on Terror”

 

Indonesiannews.co/ Jakarta, 1 Juni 2018. Kita masuk pelajaran geopolitik, dunia VUCA dan pola-pola operasi intelijen yang sekarang banyak dipelajari oleh para eksekutif di berbagai perusahaan besar untuk mengukur lingkungan strategis (PEST).   “Ghost War” adalah istilah yang artinya  “mereka yang menciptakan Hantu-hantu, dan mereka sendiri mengajak perang melawan Hantu tersebut disisi lain mereka juga memelihara Hantu supaya tidak punah”.    “Ghost War”  adalah bagian dari Yinon Plan untuk menguasai Timur Tengah dan wilayah global.

 

Dalam “Chess Game”, Muslim adalah PION. Kapan Muslim diaduk-aduk, kapan di invasi negaranya dan kapan dimanfaatkan seperti di Afghanistan< Bosnia dan di Suriah.  Polisi negara adalah Benteng, Militer adalah Kuda, MEDIA adalah Mentri, Pemerintah adalah Ratu – tapi Raja adalah Korporasi.

 

1. Bom 5 kali dalam 25 jam  di Jawa Timur,
2. Teror penusukan di Paris,
3. Pembantaian warga Palestina di GAZA yang menewaskan 60 orang lebih oleh snipers Israel,
4. Perayaan pemindahan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Jerusalem Timur,
5. Pengiriman Skuadron pembunuh Mossad Israel ke Ankara untuk membungkam Erdogan (Veteran Today) adalah berita kini.
6. Di Suriah masuknya milisi Iran dan militer Rusia dengan serangan udara (AFP) melawan ISIS bentukan Mossad dan Hillary Clinton (AS), membuat mereka makin terdesak (Diplomat, Veteran Today).

 

Memicu AS, Inggris dan Israel terang-terangan masuk Suriah, mempertahankan wilayah invasi.
Perang intelijen, perang media, framing, propaganda hingga perang diplomat di PBB.

 

Dalam negeri, perang KAOS, rupiah rontok, BUMN terjerembab, dan persiapan Ramadan.
Semua masuk “data base” lap top berupa notifikasi dan catatan-catatan informasi.

 

Geopolitik dan Operasi Intelijen.

Benar pandangan Prof. Din Syamsuddin tokoh Muhamaddiyah sekaligus staf khusus Presiden di acara ILC, terorisme bukan hanya faktor ideologi (radikal) saja (I) tetapi juga bisa subur karena  Poleksosbud.    Jika Indonesia hanya fokus memerangi ideologi dan mengabaikan masalah politik, ekonomi, keadilan sosial dan budaya lokal atau politik global – maka – teror Bom akan berulang terus.  Teror bom global berkaitan dengan operasi intelijen,  kata Din. “Bisa asing bisa lokal”.

 

“Ghost War”,  mereka yang menciptakan mereka yang memerangi dan mereka yang memelihara untuk “kepentingan”.  Para pelaku teror hanyalah pion, mereka diarahkan, dipelihara, dimainkan dan dikorbankan.

Klasifikasi : Panjang – kesulitan sedang.

Australia sekitar Gedung Kapitol, Gedung Parlemen di Canbera, tahun 2002.
Ribuan warga Australia memprotes kebijakkan PM John Howard untuk ikut koalisi AS invasi ke Irak, di depan Gedung Kapitol di Canbera, setelah peristiwa “False Flag” terbesar di Dunia 11 September 2001, tiket masuk ke Timur Tengah.   Selain anti perang, kebanyakan warga Australia menurut media The Age, juga tidak percaya Irak memiliki Senjata Pembunuh Massal.  Makin hari makin besar para pendemo yang datang sambil membawa poster “Howard the Puppet” dan sebagainya.    PM Australia dan pemerintahan George Bush Jr.  agak risau melihat pendemo anti perang di Canbera yang makin lama makin banyak jumlahnya di liput media dunia (The New York Time).  Warga Australia anti perang dan menolak bergabung dengan koalisi AS invasi ke Irak.

 

Tiba-tiba, …..” duar ” dan “ BUM ” bom meledak di pantai Kuta  Bali, Sari Club, 12 Oktober 2002.
Ledakkan bom menewaskan ratusan orang baik lokal maupun asing, diantaranya 88 warga Australia menjadi korban, terkapar.  Wilayah seluas 500 meter persegi porak poranda. Setelah itu, para pendemo warga Australia berhenti TOTAL.

 

Penuturan jurnalis senior  Robert Finnegan (AS) dari “The Jakarta Post”  Asia Tenggara yang telah tiba dilokasi, sangat mengherankan.  Banyak dikutip media lokal Australia dan film dokumentasi di You Tube “Fool Me Twice”.    Pertama, dalam tempo 12 jam anggauta FBI, CIA dan bahkan disinyalir anggota Mossad sudah hadir di lokasi.   Bukankah perjalanan AS ke Bali memakan waktu penerbangan 17 jam dari Amerika. ?

 

Kedua, merujuk jurnalis lainnya Damaro Ruyes, lembar log catatan penerbangan di Bandara Ngurah Rai Bali (Tower Flight Logs) hilang pada tanggal 12 Oktober 2002.  Pada saat itu banyak pesawat asing keluar masuk bandara yang tidak dikenal, termasuk pesawat “Bintang Daud” dengan registrasi “Dash 7 Aircraft”.

 

Ketiga, pada tanggal 21 Oktober diumumkan Kepolisian Indonesia (Pastika) bahwa ditemukan residu bom TNT, LDX, AMX dan C4  “militairy grade” atau standar militer Amerika, Eropa.  Peledak “SADM”, ekivalen dengan sekian ton mikro nuklir, kecil tapi mematikan (“Small But Very Deadly”), yang kemudian banyak digunakan di perang Irak.

 

Namun, tanggal 22 Oktober Polisi Australia dan Penyidik Internasional  mengumumkan hanya residu bom sejenis pupuk urea (Fertilize Bomb). Sesuatu yang berbeda jauh.

Keempat, ledakan bom dua kali, (1) ledakan “bunuh diri” di dalam Sari Club dan menyusul ledakkan bom kedua, “The Real Bomb” dari mobil di luar Café (Mitsubishi L -300, van) yang meluluh lantakkan area sekitar 500 meter persegi dan menimbulkan lobang sedalam 5 kaki.

 

Pengakuan Amrozi, salah satu terdakwa, hanya merakit bom yang relatif kecil, yang lainnya tidak tahu.

 

Kelima, yang paling penting.

Semua jaringan teroris tiba-tiba diketahui, jaringan JI (Jamaah Islamiyah) berdasarkan informasi dari intelijen Amerika dan Australia. Terjadilah penangkapan besar-besesaran, yang umumnya tersangka adalah alumni Afghanistan termasuk dedengkotnya (pengarah) yaitu Omar Al Faruq.

 

Dan 3 hari kemudian, luar biasa, diminta CIA untuk diekstradisi ke AS. Dikabulkan Jakarta, transfer dengan pesawat khusus. Hingga kini tidak ada beritanya lagi, dan tidak ada pengadilan di AS. Hilang beserta semua informasi penting !

Ingat ya – sekitar 24 ribu pemuda Muslim seluruh dunia di rekrut CIA (Amerika), MI-6 (Inggris), ISI (Pakistan), Intelijen Turki, dan Saudi Arabia untuk berperang melawan Uni Soviet (Komunis) di Afghanistan (1979 -1989).   Itulah, cikal bakal Al Qaeda versi Barat, termasuk Osama Bin Laden dari Arab Saudi.

 

Belakangan diketahui oleh para analis, dan jurnalis Robert S Finnegan , Omar Al Faruq adalah asset CIA, Mossad yang masuk ke jaringan JI dan datang ke Indonesia, Orang Kuwait tetapi passport Pakistan dilatih CIA untuk infiltrasi ke semua jaringan radikal, mujahidin, atau ormas Islam untuk kepentingan AS.

 

Sempat nikah dengan wanita Indonesia.

Que de Bono ?
Siapa yang diuntungkan, kata Pepe Escobar jurnalis Brasilia ?

 

Kemudian yang terjadi, demo warga Australia berhenti, pemerintahan John Howard dengan tenang ikut koalisi AS ke Irak, Anggaran Intelijen Australia naik dramatis dan pembentukan tim kontra teror Australia – Indonesia dengan dana berlimpah dari AS dan Australia.

 

“War on Terror” makin lalu di dunia dengan adanya Bom Bali 2002.

Kebetulan menarik, angka 88 ikut menjadi sejarah pembentukan badan anti teror di Indonesia.

 

Itulah “Ghost War”.

Keterlibatan Israel cukup jelas hasil laporan Ruyes dan Finnegan, dengan masuknya pesawat terdaftar “Dash 7 Aircraft” berbendera “Bintang Daud”.  ISIS yang membentuk adalah Hillary Clinton semasa era Barack Obama, fungsinya membuat destabilisasi wilayah tertentu, utamanya Timur Tengah.   Membantu menggulingkan Rezim Negara tertentu yang berseberangan dengan kepentingan Barat (AS-Israel-NATO).  Abu Bakar Al Bagdadi Pemimpin ISIS adalah asset Mosad dan CIA, untuk berbagai macam operasi intelijen dan bergerilya (Veteran today), ia dilatih selama 18 tahun di kamp CIA karena pernah ditahan AS.

 

Semasa Barat melawan Komunisme Soviet di Afghanistan, CIA merekrut pemuda Muslim di seluruh dunia untuk “jihad” di perang Afghanistan, termasuk mujahidin dari Indonesia, kata Din lebih lanjut di ILC.  Itulah, yang kemudian ada yang ke Johor Malaysia, dan di sebut Al Qaeda cabang Indonesia oleh Barat.

 

Semasa perang dingin dan konflik  di Bosnia melawan Soviet dan Serbia (1992 – 1995), ribuan pemuda Muslim seluruh dunia di rekrut oleh CIA, MI-6, ISI (Pakistan), Turki, dan Negara Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, Bahrain – membantu pasukan NATO bergerilya.

 

Terorisme subur karena geopolitik, operasi intelijen dan ketidak adilan di berbagai Negara yang kebetulan Negara-negara Muslim yang menjadi korban.

 

Bagaimana nasib jurnalis Robert S Finnegan ?

Ia dan tim, atas desakkan Duta Besar AS Robert Boyce kala itu, dipecat dari The Jakarta Post dan di deportasi ke Amerika. Namun jasanya tetap dikenang media Australia karena mengungkapkan kebenaran sebagai prinsip jurnalime,  adanya operasi intelijen di Bom Bali, Kuta – sebagian bukti dokumen diflilmkan oleh Nephilm 70 dan Glen Clancy Australia. Bis dilihat di You Tube dengan judul “Fool Me Twice”.

 

PM Australia John Howard dan intelijen Australia mengetahui persis tujuan Bom Bali 2002 di Kuta.   Australia beruntung, masih memiliki jurnalis independen dan membuat film dokumentasi.
Namun negaranya tidak beruntung, karena kini Australia digunakan sebagai Pangkalan Militer AS untuk menghadapi gejolak perang Laut China Selatan, suatu saat.

 

Untuk menambah wawasan, saya tambahkan juga John Richard Pilger Jurnalis Independen Australia sekaligus analis global dan pengarang buku terkenal (1) The New Ruler Of The World dan  (2) Hidden Agenda.

 

Ini kesimpulan dari Richard Pilger :

“Sebenarnya tidak ada perang melawan terorisme yang ada hanyalah terorisme digunakan sebagai alat perang, dan Islam yang paling banyak korban”.   Itulah sebagian  dari “Ghost War” dan geopolitik, ada variabel Poleksosbud yang harus dipertimbangkan dalam menangani terorisme bukan hanya variabel ideologi.

 

 

Marsma TNI (Purn) H. Juwono Kolbioen.
Vice President IAAW

 

 

(YN / indonesiannews.co – Jakarta)

 

 

 

Komentar

Berkomentar


Share to social media

Be the first to comment

Leave a Reply