Film Terbaru Kamila Andini
“Before, Now & Then (NANA)” Diluncurkan; Kisah Perempuan Sunda Ini Akan Tayang Perdana di Program Kompetisi Utama Berlinale

 

Dibintangi oleh Happy Salma, Laura Basuki, Arswendy Bening Swara, Ibnu Jamil, karya
terbaru Kamila Andini terseleksi untuk masuk di program kompetisi utama Berlin
International Film Festival 2022

 

 

Indonesiannews.co / Jakarta, 19 Januari 2022. – Setelah tahun lalu sukses dengan film “Yuni”, Fourcolours Films kembali meluncurkan produksi film panjang karya Kamila Andini yang berjudul “Before, Now & Then (NANA)”. Film ini diadaptasi dari salah satu bab di novel JAIS DARGA NAMAKU karya Ahda Imran. Film ini dibintangi oleh Happy Salma yang memainkan karakter utama, Nana. Selain itu turut bermain di film ini adalah Laura Basuki, Ibnu Jamil, Arswendy Bening Swara, Rieke Diah Pitaloka, Arawinda Kirana dan aktris cilik pendatang baru, Chempa Putri. Film NANA diproduksi dengan lokasi di Ciwidey Jawa Barat mulai pada Februari 2021. “Before, Now & Then (NANA)” bercerita tentangseorang perempuan Indonesia yang hidup di daerah Jawa Barat di era 1960-an yang diangkat dari sebuah kisah nyata kehidupan Raden Nana Sunani. Kisah seorang perempuan yang melarikan diri dari gerombolan yang ingin menjadikannya istri dan membuatnya kehilangan ayah dan anak. Ia lalu menjalani hidupnya yang baru bersama seorang menak Sunda hingga bersahabat dengan salah satu perempuan simpanan suaminya. Sesuai latar tempatnya, film ini akan menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa utama yang dipakai di film.

 

Film “Before, Now & Then (NANA)” berhasil lolos dan terseleksi dalam program kompetisi utama yang merupakan program inti dari festival. Total 18 film terpilih, baik dari sutradara yang telah mapan maupun dari sutradara muda yang sedang naik daun, akan berkompetisi untuk memperebutkan penghargaan ‘Golden Bear’ dan ‘Silver Bear’. Dengan visi merangkul keragaman sinema dan cakupan produksinya yang luas di abad ke-21 ini, program kompetisi ini memiliki tujuan untuk memberi kejutan, menghibur, serta memperkaya tontonan pada para penonton dan profesional industri.

Tahun ini film “Before, Now & Then (NANA)” akan berkompetisi bersama film-film dari
pembuat film dunia ternama seperti sutradara Carla Simon, Claire Denis, Rithy Panh, Denis Cote, Paolo Taviani, Ulrich Siedl, Andreas Dresen, Hong Sang Soo, Isaki Lacuesta, dan François Ozon. Kamila Andini menjadi sutradara perempuan pertama Indonesia yang berkompetisi di Berlinale sejak terakhir kali Sofia WD lewat film “Badai Selatan” di tahun 1962. Di antaranya, Edwin juga muncul di tahun 2012 lewat “Postcards from the Zoo”.

Carlo Chatrian, Artistic Director Berlinale, memberikan pujian untuk film “Before, Now & Then (NANA)”, “Film ini adalah proyek yang sangat ambisius tanpa kehilangan perspektif perempuan yang berhubungan dengan masa lalu Indonesia dengan pendekatan pribadi dan orisinal. Cerita dijalin dengan perasaan yang tidak bisa kita hindari dengan cara bertutur melodrama seiring dengan penggunaan musik”.

Lebih lanjut Carlo mengatakan bahwa film-film yang terpilih tahun ini diseleksi dengan ketat, “Film-film Berlinale ke-72 memberikan deskripsi yang baik tentang dunia dalam
keadaannya yang berubah saat ini, tetapi juga tentang bagaimana keadaannya, dan bagaimana seharusnya atau kemungkinannya. Dihadapkan dengan keinginan untuk memproduksi apa yang telah kita alami (dan kita penghuni planet Bumi tidak pernah terpisah begitu jauh namun begitu mirip dalam gaya hidup kita), banyak film telah merespons dengan kekuatan imajinasi, humor, emosi, dan konfrontasi fisik yang terkadang penuh gairah dan terkadang dengan kekerasan.”

Berlin International Film Festival atau dikenal juga dengan sebutan Berlinale adalah festival film besar dunia yang mulai diadakan tahun 1951. Festival ini rutin diadakan pada bulan Februari dengan lebih dari 65.000 pengunjung tiap tahunnya, menjadikan festival ini sebagai salah satu festival film terbesar dunia yang sangat dinanti-nanti pelaksanaannya. Di tahun
2022 ini, Berlinale akan digelar secara offline pada tanggal 10 – 20 Februari.

Film berlatar waktu di akhir 1960-an ini membawa Kamila Andini ke eksplorasi baru dalam perjalanan kariernya sebagai sutradara, ia menggarap film periodik yang juga diinspirasikan dari kisah nyata. Kamila Andini berbagi ceritanya, “Film periodik Indonesia selalu terkait dengan sesuatu yang besar atau tentang seorang tokoh penting, sedangkan ketika saya mengerjakan ini saya ingin menceritakan seorang tokoh perempuan pada umumnya, seperti nenek kita, kakak kita atau ibu kita, yang bisa disayangi dengan semua kekurangan dan kelebihannya. Kebetulan saja ia hidup di masa itu. Tapi kita juga bisa berefleksi dengan masa itu dan masih bisa terhubung dengan masa kini. Saya ingin membuat jembatan dari masa lalu ke masa sekarang.”

Bagi Kamila Andini lebih lanjut ia mengatakan, “Perempuan adalah korban jaman yang paling nyata. Tapi di setiap zaman, selalu ada sosok perempuan yang tidak pernah sekalipun menjadikan dirinya korban, meskipun tetap tidak lepas dari pengorbanan. Nana adalah kisah perempuan yang menjadi korban sebuah era; perang, politik, pemberontakan dan kehidupan sosial patriarki yang ingin mencari arti kebebasannya sendiri.”

Untuk memperkuat suasana ada banyak unsur seni. Salah satunya penggunaan lagu berbahasa Sunda yang diproduksi sekitar tahun 1960an yang berjudul Djaleleudja, lagu ini diproduksi oleh Jamin Widjaja dan Indrawati Widjaja dari Bali Records (Musica Studio’s).

Gagasan untuk membuat film “Before, Now & Then (NANA)” sebenarnya sudah ada sejak 2018, namun Kamila Andini memutuskan untuk membuat “Yuni” lebih dahulu. Maka film ini baru dikerjakan di tahun 2021 awal, di saat pandemi sedang berjalan. Meskipun begitu, ia mengaku pengerjaannya cukup nyaman. “Film ini dibuat seperti jamming session, karena
dikerjakan dengan orang yang banyak dikenal,” jelasnya.

Untuk film panjang keempatnya, Kamila Andini kembali berpartner dengan produser Ifa Isfansyah yang sebelumnya sukses melahirkan film YUNI yang mendapatkan penghargaan Platform Prize di Toronto International Film Festival 2021. Ifa Isfansyah kali ini menggandeng Gita Fara yang sebelumnya juga bekerja sama dengan Kamila Andini melalui film “The Mirror Never Lies” (2011) dan “Sekala Niskala (2017)”.

“Tentu kami bangga, dengan masuknya NANA di kompetisi Berlinale ini merupakan
pencapaian besar untuk film Asia, terutama Asia Tenggara” ujar Ifa Isfansyah dan Gita Fara. “Before, Now & Then (NANA)” merupakan proyek film yang disiapkan sejak tahun 2018, diproduksi oleh Fourcolours Films yang sebelumnya memproduksi film panjang Siti, Film Terbaik FFI 2015 karya Eddie Cahyono; Turah, film wakil Indonesia untuk Academy Awards 2017 karya Wicaksono Wisnu Legowo, dan Kucumbu Tubuh Indahku, Film Terbaik FFI 2019 karya Garin Nugroho. Dalam produksi ini Fourcolours Films bekerja sama dengan Titimangsa Foundation. Happy Salma, pendiri sekaligus direktur dari Titimangsa juga berperan sebagai NANA. Ia juga menduduki kursi produser pendamping untuk film ini.

 

Titimangsa sebelumnya banyak memproduksi seni pertunjukan seperti Rumah Kenangan,
Aku Istri Munir dan juga Bunga Penutup Abad.
Produksi film ini memperoleh dukungan pendanaan dari Purin Pictures Thailand untuk
dukungan pendanaan pasca produksi, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat untuk support produksi, dan juga berhasil memenangkan penghargaan CJ ENM Award di Asian Project Market Busan International Film Festival 2021. Delegasi dari tim film “Before, Now & Then (NANA)” akan bertolak ke Berlinale pada tanggal 8 Februari dengan dukungan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi, MLD Spot, Deltomed, dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Film “Before, Now & Then (NANA)” juga didukung oleh Goodrich Suites, Artotel Portfolio untuk lokasi special media announcement.

Untuk peredaran internasional, Wild Bunch International telah mengakuisisi ‘Before, Now & Then (Nana)’ menjelang pemutaran perdananya di program kompetisi Berlinale 2022.

Wild Bunch International adalah sales agent yang sebelumnya sukses memasarkan film-film besar seperti Shoplifters (Kore-eda Hirokazu), I Daniel Blake (Ken Loach), Blue is the Warmest Color (Abdellatif Kechiche), City of God (Fernando Meirelles), The Grandmaster
(Wong Kar Wai), The Artist (Michel Hazanavicius), Climax (Gaspar Noe), 4 Month 3 Weeks and 2 Days (Cristian Mungiu) & Capharnaum (Nadine Labaki).

Ikuti terus akun media sosial Fourcolours Films untuk mengikuti informasi terkini tentang film NANA.

 

Sekilas Tentang Fourcolours Films
Fourcolours Films adalah rumah produksi independen yang berbasis di Yogyakarta, aktif
sejak tahun 2001 memproduksi berapa film termasuk SITI (Eddie Cahyono, Telluride Film
Festival 2015 & Film Terbaik FFI 2015), TURAH (Wicaksono Wisnu Legowo, Singapore
International Film Festival 2016 & Entri Resmi Bahasa Indonesia untuk Academy Awards
2018), dan SEKALA NISKALA (Kamila Andini, Official Selection Busan International Film
Festival 2017), KUCUMBU TUBUH INDAHKU (Garin Nugroho, Film Terbaik FFI 2019) & YUNI (Kamila Andini, Platform Prize Toronto IFF 2021).

 

Sekilas Tentang Titimangsa Foundation:
Titimangsa Foundation adalah yayasan nirlaba yang dibentuk Happy Salma pada Oktober
2007. Titimangsa bergerak di bidang budaya khususnya seni pertunjukan. Titimangsa sendiri artinya adalah terjadi pada waktu yang tepat. Pada prosesnya, Titimangsa telah menghasilkan beberapa karya pertunjukan maupun literatur yang patut diperhitungkan di kancah nasional.

 

Sekilas Tentang Kamila Andini;
Kamila Andini lahir di Jakarta 6 Mei 1986. Ia belajar Sosiologi dan Seni Media di Universitas Deakin, Melbourne, Australia. Pada tahun 2011, ia membuat film panjang pertamanya berjudul THE MIRROR NEVER LIES dan telah mengelilingi lebih dari 30 festival film termasuk Berlinale, Busan, Edinburgh, Seattle, dan mendapatkan lebih dari 15 penghargaan di sirkuit festival. Setelah itu menyutadarai dua film pendek, SENDIRI DIANA SENDIRI dan MEMORIA, yang diputar di Busan dan Toronto Film Festiva. Film panjang keduanya, SEKALA NISKALA berkompetisi di sesi Platform di Toronto International Film Festival 2017 dan memenangkan Grand Prix Jury Award di Generation KPlus di Berlinale 2018, serta memenangkan penghargaan sebagai Best Youth Feature Film di APSA 2017, Grand Prix Tokyo Filmex 2017, dan Golden Hanoman JAFF 2017. Film ketiganya, YUNI, berhasil mendapatkan penghargaan Platform Prize di Toronto International Film Festival 2022.

 

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Intan Nadya Maulida
Fourcolours Films
E: intan@fourcoloursfilms.com
M: 0858-4873-1623
Instagram: fourcoloursfilms
Twitter: @fourcolours
Youtube: Fourcolours Films
Website: fourcoloursfilms.com

 

 

(***)

 

Komentar

Berkomentar

Facebook Comments Plugin Powered byVivacity Infotech Pvt. Ltd.

Tinggalkan Balasan