Eki Pitung, Bamus Betawi hadir mengawal Festival Halal di JCC Jakarta
Indonesiannews.co / Jakarta, 22 Desember 2023. – Eki Pitung, Bamus Betawi hadir mengawal Festival Halal di JCC Jakarta, Wakil Ketua Badan Musyawarah (Bamus) Betawi Muhammad Rifky alias Eki Pitung yang juga ditunjuk sebagai tenaga ahli PD Pasar Jaya, BUMD milik Pemprov DKI, hadir mengawal jalan nya acara festival halal yang diselenggarakan di JCC Jakarta mulai tgl 22 sd 24 Desember 2023. (22/12/2023). Eki Pitung mengatakan, “Di Jakarta, sejak tahun 2022, terdapat 370 rb data UMKM dan yang baru tersertifikasi halal itu hanya 5 % s/d 10 %, itu berartikan belum ada kesadaran dari para pelaku UMKM nya belum mau produknya di sertifikasi halal, padahal administrasi nya hanya Rp. 200.000,- sd Rp. 300.000,- saja,” ujar Eki. “Jadi kesadaran ini yang harus di bangun, dan itu tugas bersama, dan kita saling mengingatkan. Lembaga ini baru dibentuk pemerintah pusat dan ada keputusan Presiden, bahwa sampai 17 Oktober 2024, menghimbau untuk semua pelaku UMKM atau kuliner, restoran yang besar atau yang kecil, jika memang mau mendapat sertifikasi Halal segera daftar ke Pemerintah daerah atau ke Pemerintah Pusat dan lembaga-lembaga yang sudah ditentukan oleh pemerintah,” tegas Eki. “Untuk festival halal menurut saya kalau bisa setiap 5 kali setahun harus di gelar. Karena sosialisasi halal ini penting. Khususnya di Jakarta yang heterogen, dan juga sebagai tempat pusat nya ekonomi di ibukota. Dimana masuknya barang-barang luar ke dalam, pasti melalui Jakarta,” lanjut Eki. “Jadi sosialisasi halal di Jakarta Khususnya karena sertifikasi nya ini dikeluarkan oleh salah satu institusi yang baru, menurut saya perlu di back up, bukan karena lemah, yang lahir dari sebuah UU baru tentang sertifikasi halal, wajar jika sertifikasi halal ini belum terdengar sampai ke tingkat masyarakat UMKM. Karena sertifikasi ini baru di bentuk di pemerintah pusat Sebagai Ujung tombak,” terang Eki. “UMKM yang berpartisipasi pada festival-festival ataupun kuliner-kuliner yang sudah menjamur dimana-mana, dan masyarakat berani menggelar acara-acara festival apapun, ada kuliner dan lain lain. Pertanyaan besarnya adalah apakah Halal atau tidak, hal ini untuk semua pelaku atau penggiat ataupun UMKM harus segera mendaftarkan produk nya, halal atau tidak,” terang Eki. “Bahkan, yang tadi disampaikan dari pihak Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) di bawah Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia, baru ditegaskan bahwa baru di bidang kuliner, tapi di bidang kosmetik, dibidang kesehatan dan obat-obatan, belum ada sertifikasi halal, jadi baru sampai di level kuliner. Wajar kalau sekarang ini memang ada festival halal ini harus di dorong, jadi jangan sekedar seremoni atau tagline MUI, tapi harus bertanggung jawab terus, sampai akhirnya konsumen itu aman membeli 1 produk, bahwa yang di gunakan itu halal tanpa memang harus mereka menunggu sertifikasi itu,” ujar Eki. “Satu contoh saja, yang sekarang lagi viral, kormetik skin care – skin care itu, kan produk dasarnya dari Korea, berbahan apa, itu kan kami tidak tau, karena kaum Hawa banyak yang ikut-ikutan saja karena hasilnya bagus, tapi kan pertanyaannya apakah halal atau tidak? Nah ini tanggungjawab dari institusi ini,” lanjut Eki. “Oleh sebab itu, hal ini juga menjadi salah satu langkah positif untuk mensosialisasikan. Saya yakin dengan niat pemerintah karena sudah di buatkan rumahnya, yaitu rumah sertifikasi halal, Antara MUI dengan lembaga ini memang sudah harus seterusnya saling berjalan,” ujar Eki. “Kami Bamus Betawi, di ajak untuk bekerjasama, kalau bisa mengawal produk-produk yang memang sifatnya harus ada sertifikasi halal,” ujar Eki. “Harapan kami dari Bamus Betawi, Jakarta sebagai kota global, hal ini menjadi PR buat masyarakat, begitu di tentukan Ibukota pindah lalu pusat bisnis masuk lah nanti investor-investor asing untuk membangun ini, membuat ini, membuat itu, produk dan seterusnya, maka saya pikir sebagai mayoritas kita adalah masyarakat muslim, segala sesuatunya semua harus bisa meyakini yang dimakan, yang di pakai, atau yang melewati di tubuh kita itu halal, nah ini harus jelas harus clear, baik itu yang di minum, obat juga harus clear juga, semua masyarakat awam hari ini tidak pernah tau, bahkan mungkin dokter nya juga tidak tahu bahwa suatu produk itu halal atau haram, dengan produk obat, kosmetika, kalau kuliner kita sudah taulah bahan nya apa,” terang Eki. “Harapan saya, terhadap agenda ini, bukan hanya sekedar festival dagangan atau kuliner, tapi memang ada pengawalan dari institusi yang mengeluarkan sertifikasi halal, ini saya menyayangkan pihak MUI tidak hadir, karena stempel halal haram tersebut dari pihak MUI,” jelas Eki. “Mudah-mudahan kedepan nanti agenda seperti ini semakin sering dan arahan dari Pemerintah pusat tentang bagaimana mengeluarkan sertifikasi halal ini harus benar-benar dari pihak masyarakat bertanya, jika tidak selama nya kita akan terjebak dengan pola sircle bisnis yang menjerumuskan, khusus nya para muslimin yang memang sangat konsen dengan apa yang akan di konsumsi kan, jadi halal atau haram,” tutup Eki kepada awak media indonesiannews.co di lokasi Pameran di JCC Jakarta. (***)